Saya Bangga Jadi Penulis Hijau

Penulis yang saya maksud di atas bukan penulis yang masih hijau tapi penulis yang turut membantu untuk mengurangi efek pemanasan global. Lalu sekarang, pertanyaannya adalah : bagaimana caranya?
1.Teliti Sebelum Tulisan Anda Diprint
Bukan rahasia lagi kalau Penerbit lebih suka menerima naskah dalam bentuk hard Copy daripada Soft Copy karena lebih mudah dibawa kemana-mana jadi, yang ditugaskan membaca naskah kita juga nggak harus diaaaam di kantor terus-terusan atau sakit mata terkena cahaya dari layar komputer hanya untuk tetap membaca naskah-naskah bagus kita.
Nah, karena alasan tersebut, tentunya para penulis yang mengeposkan naskahnya pasti sering memakai kertas dalam jumlah banyak padahal, kertas yang sering kita gunakan berasal dari pohon-pohon yang ternyata berperan penting dalam mengurangi dampak pemanasan global karena selain bisa menghasilkan oksigen dan menyerap gas beracun,pohon-pohon tersebut juga bisa menyerap panas dan mengembalikannya lagi ke angkasa.
Berdasarkan fakta di atas, kita sebagai penyandang profesi yang amat sangat memerlukan kertas (apalagi kalau naskah 100-an halaman yang kita ketik harus dibuat lima rangkap.Gubraak!!), sudah seharusnya memeriksa dulu semua yang kita ketik (mulai dari huruf-huruf yang sering salah ketik sampai tanda baca yang salah penempatannya karena mengantuk) dengan amat sangat teliti sekali sebelum diprint. Kan sayang kalau diprint berulang-ulang karena selain memperbanyak ongkos, berarti kita turut berperan dalam berbagai penebangan pohon yang marak terjadi di Indonesia.
2.Mengurangi Pemakaian printer
Kalau seandainya ada tulisan kita yang nggak harus diprint alias bisa disave di komputer, USB atau CD, ada baiknya nggak usah diprint karena akan menghemat pemakaian kertas yang artinya, kita sudah mendukung keberadaan pohon-pohon yang ada di Indonesia ini. Supaya lebih jelas gambarannya, dari salah satu artikel yang saya baca di internet, dari 10 kg kertas koran yang siap dijual di loakan membutuhkan 1 pohon yang butuh 10 tahun untuk jadi besar (wuaduh!! Coba deh kertas salah print yang di rumah ditimbang, sudah berapa kilogram?)
3.Ciptakan Lingkungan Rumah Yang Hijau
Langkah Terakhir ini mungkin nggak secara langsung melibatkan profesi penulis tapi, terkadang kita sebagai penulis bisa terinspirasi bila melihat sesuatu yang menyejukkan jadi nggak ada salahnya kalo kita menanam pohon di halaman rumah kita yang sekiranya masih menyisakan tempat. Selain bisa mengurangi efek pemanasan global, kita juga bisa jadi tambah inspirasi karena tinggal di tempat yang sejuk dan sehat.
Setelah membaca langkah-langkah di atas, mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa harus penulis yang bertindak?
Kalau saya diijinkan menjawab, saya akan bilang karena, sadar atau tak sadar, komunitas penulis adalah sebuah KOMUNITAS BESAR yang tak bisa dipandang sebelah mata. Karena itu, saya yakin, bila semua penulis yang membaca tulisan ini bisa mengikuti langkah di atas, akan memberikan dampak yang amat sangat signifikan terhadap pengurangan efek negatif pemanasan Global.
Bagaimanapun, kita adalah bagian dunia ini, bumi ini, Indonesia ini...
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Yuk, jadi the GREEN WRITERS!!


Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Saya Bangga Jadi Penulis Hijau”

annie mengatakan...

cayo...trus penulis...

tapi kenapa di sebut penulis hijau?

speakup mengatakan...

Menurut saya, lingkungan yang "hijau" itu adalah lingkungan yang non-global warming banget. Karena itulah saya menamakan Penulis yang anti global-warming sebagai penulis hijau.