Menulis...Perlu Bakat?

Saya pernah bertanya beberapa kali pada diri saya, apakah saya memang berbakat menulis?
Saya yakin, beberapa teman penulis juga pasti pernah bertanya pada diri sendiri saat melihat surat penolakan yang kesekian kalinya, karena memang pertanyaan itu yang terus saya tanyakan pada diri saya saat kebanyakan artikel dan cerpen yang saya kirimkan tak juga dimuat bahkan bahkan novel yang saya kirimkan tak kunjung diterima.
Apakah saya memang tak punya bakat menulis?
Apakah saya memang pantas menyebut diri saya sebagai penulis?
Apakah saya nantinya akan mampu menghidupi diri saya dari menulis?
Saya sempat ragu, apalagi penulis bukanlah profesi yang didukung sepenuhnya oleh keluarga saya sehingga membuat saya semakin down.
Pertanyaan puncak pun akhirnya muncul,
Apakah pilihan saya ini tepat?

Dalam sebuah buku yang saya baca, ada sebuah kalimat yang menarik perhatian saya :
Perasaan Kompetensi sesungguhnya dimulai dengan perasaan, baru kemudian menghasilkan kompetensinya.
Kalimat ini seakan menampar saya.
Kalau saya terus-terusan mempertanyakan eksistensi, bakat dan kemampuan saya sebagai penulis, bagaimana saya bisa menjadi penulis?
Dari kalimat di atas, saya sadar kalau untuk menjadi penulis, kita harus benar-benar yakin bahwa KITA BISA MENULIS.
Orang lain bisa saja tak sependapat dengan kita dan merendahkan serta menjatuhkan kita tapi, adalah sebuah hal yang tak bisa diterima kalau kita sendiri yang merendahkan dan menjatuhkan diri kita.
Setelah meresapi baik-baik kalimat tersebut, saya membuat sebuah kesimpulan bahwa, untuk menjadi penulis, bakat adalah soal belakangan karena yang paling diperlukan adalah KEYAKINAN BAHWA KITA BISA MENULIS.
Untuk mendukung opini saya di atas, saya akan mencoba untuk sedikit mengupas tentang VCD “The Secret” yang membahas tentang bagaimana pemikiran yang positif bisa menarik hal-hal yang positif ke dalam diri kita (law of attraction).
Dalam VCD tersebut, terdapat sebuah penelitian yang dilakukan terhadap para atlit olimpiade. Dalam penelitian tersebut, para peneliti memasangkan alat pemantau yang canggih dalam tubuh para atlit dan menyuruh mereka seolah sedang berlomba lari, hanya dalam bayangan pikiran mereka saja.Hasilnya?
Otot-otot para atlit tersebut bereaksi dalam urutan yang sama, saat mereka sedang berlomba lari dalam pikiran mereka seolah-olah mereka benar lari di atas lintasan lari. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Alasannya adalah, karena otak tak bisa membedakan apakah anda benar-benar melakukannya atau anda hanya membayangkannya saja. Karena itulah, dengan memiliki pikiran bahwa anda adalah penulis yang punya bakat luar biasa dalam menulis saat mengerjakan sebuah tulisan atau naskah, akan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada ketika kita berpikir bahwa kita sebenarnya adalah penulis gagal yang tak berbakat pada saat kita menulis sesuatu.
Kini, kesimpulan ini akan membuat kita bertanya lagi.
Jadi, hanya dengan memikirkan bahwa kita adalah penulis akan membuat kita menjadi penulis?
Jawabannya tentu saja tidak.
Untuk menulis, selain punya keyakinan sebagai faktor utama, kita tentu saja harus memiliki displin dalam menulis.
Kalau memang ingin menjadi penulis, tunjukkan seberapa besar keinginan anda untuk menulis. Menulislah minimal satu hari sekali dan bacalah karya orang minimal satu cerita/artikel sehari. Tulislah apa saja yang anda sukai dan mulailah mempelajari gaya penulisan orang lain maka pada suatu hari nanti, anda akan memiliki gaya penulisan anda sendiri karena pada kenyataannya, tak semua penulis terkenal dilahirkan dengan bakat. Banyak penulis terkenal yang memulai karir mereka sebagai penulis yang ditolak, bahkan sampai menjual karya mereka di garasi rumah mereka karena bosan terus-terusan ditolak. Kini,Tanamkan dalam pikiran anda bahwa Bakat adalah Kesabaran Yang Panjang (Gustave Flaubert) dan Lebih Banyak Orang Mempunyai Bakat daripada displin. Itulah sebabnya DISPLIN dibayar lebih tinggi (Mike Price).
Pada akhirnya, saya memiliki kesimpulan bahwa untuk dikukuhkan sebagai penulis, tak perlu harus mendapatkan penghasilan dan diterbitkan tapi, pada saat saya berpikir : saya bisa menulis dengan baik, saya mau menulis dengan baik dan saya mau menulis setiap hari, saat itulah saya adalah seorang PENULIS.


Posting Lebih Baru Posting Lama

3 Responses to “Menulis...Perlu Bakat?”

Moehfi mengatakan...

Pendapat saya sih, orang-orang juga perlu mengetahui potensi diri-nya. Tidak asal-asalan "menghakimi" diri sendiri juga.

Ngomong2 mbak, VCD "The Secrets" itu ada di jual di pasaran gag?

Salam,
moehfi

antown mengatakan...

saya suka paragraf terakhirnya. So, keep on writing!!

speakup mengatakan...

Buat moehfi, maksudnya, kalo ngga bisa nulis, harus sadar diri?(ini sih dari yang aku simpulkan.
Jawabannya? lebih baik percaya diri daripada rendah diri,hehehe
trus soal vcd-nya?
cuma pinjam sepupuku yang kebetulan merekamnya dari VCD asli. kayaknya ada deh, di toko-toko VCD.Thx buat responnya,hehehe...
buat antown, thanx sudah ngasih semangat,hehehe