Penulis..Profesi Rendahan?

Coba kita balik sebentar saat kita kecil waktu ditanya cita-cita kita. Jawabannya pasti bervariasi, mulai dari Dokter (profesi favorit orang tua untuk anaknya), Pilot (profesi keren karena bisa keliling dunia..gratis, malah digaji lagi), Guru (Enak, bisa menjewer kuping para murid), arsitek (biar bangun rumah besar), sampai Pebisnis Sukses (Biar punya banyak uang). Terus, ada nggak yang pernah mendengar jawaban penulis?

Saya sudah suka menulis sejak kecil tapi jujur saja, waktu kecil, saya ingin menjadi Pengacara supaya bisa membela yang lemah (kecil-kecil idealis,hehehe...) tapi, seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita saya malah kandas di tengah jalan karena...kurangnya minat. Saat saya SMA, saya kemudian masuk jurusan IPA, biar lebih banyak pilihan waktu kuliah tapi akhirnya masuk Fakultas ekonomi juga (nggak konsisten,ya?).
Nah, jurusan ekonomi yang saya pilih ini otomatis menggambarkan masa depan saya yang harusnya jadi karyawan sebuah kantor atau pedagang (profesi favorit orang tua saya) tapi, saya kok malah memilih jadi penulis,ya?
Kembali lagi waktu saya masih kecil. Mengapa saya tak mengatakan penulis sebagai cita-cita saya padahal saya suka menulis? Jawabannya, karena waktu itu, saya yang masih anak-anak belum tahu kalau penulis adalah sebuah profesi dan menganggap bahwa itu adalah sebuah bentuk penyaluran ide saja. Tentu saja pemikiran saya itu bukan tanpa alasan karena di pikiran kebanyakan orang tua, penulis memang bukan profesi menjanjikan sehingga kurang disosialisasikan pada anak-anaknya. Kini, apakah memang profesi penulis serendah itu?
Saya pernah bilang ke mama saya kalau saya akan menjadi penulis dan anda tahu apa kata mama saya? Dia bilang kalau saya nggak akan pernah bisa hidup dari menulis. Waktu saya mendengarnya, telinga saya lumayan panas namun, saya tak bisa membalas apa-apa karena saat itu saya belum mendapatkan penghasilan yang lumayan dari menulis (sekarang juga masih belum,hikz!!). Lalu, anda mungkin bertanya, mengapa saya bisa begitu yakin bahwa saya bisa hidup dari menulis, profesi yang selalu dianggap rendah bagi sebagian besar orang tua?
Saya tahu bahwa menulis itu adalah jalan hidup saya justru saat saya jadi mahasiswa fakultas Ekonomi. Ceritanya ni, saya sering iseng ikutan Lomba Penulisan NonFiksi yang diselenggarakan di kampus dan ternyata, secara mengejutkan, saya memenangkan sebagian besar perlombaan yang saya ikuti sehingga memberikan penghasilan bagi saya bahkan, saya pernah berkunjung ke Kupang secara gratis hanya karena Karya Tulis Ilmiah saya tentang pembajakan harus dipresentasikan di sana.
Saat itu, benar-benar membuka mata saya karena saya ternyata bisa hidup dari menulis dan mulai saat itulah, saya sudah jarang meminta uang dari orang tua saya.
Kini, saya berada di sini, walaupun belum mendapatkan penghasilan tetap, saya berusaha untuk membuktikan kalau saya bisa jadi penulis karena bagi saya, penulis adalah profesi paling bergengsi sedunia. Mengapa?
Alasannya sederhana, karena saya AMAT SANGAT menyukainya dan itulah yang membuat saya begitu menghormati profesi ini. Lagian, kini dunia sudah berubah. Profesi sebagai Pekerja Kreatif sudah lebih dihargai. Buktinya, dalam majalah Cita Cinta yang saya baca, berdasarkan survey pada 240 pembacanya :
8.8% memilih Dokter sebagai Profesi Impiannya
9.2% memilih Dosen/Pengajar sebagai Profesi Impiannya
9.5% memilih Model/Pemain Sinetron/Penyanyi sebagai Profesi Impiannya
15.8% memilih PNS sebagai Profesi Impiannya (mm...)
24.2% memilih Wiraswasta sebagai Profesi Impiannya dan akhirnya,
32,5% memilih Pekerja Kreatif sebagai Profesi Impiannya.
See? Kini jaman sudah berubah, kita yang nantinya akan menjadi orang tua harusnya bisa memperkenalkan menulis sebagai salah satu karir yang memiliki prospek untuk masa depan. Penulis itu profesi hebat karena pada dasarnya, banyak penulis yang kaya hanya dari menulis. Sebagai contoh, lihat saja JK Rowling (Penulis Favorit saya) yang menjadi wanita terkaya di Inggris hanya dari menulis Harry Potter. Belum lagi ada Habbiburahman El Shazy yang terkenal dengan Novel Ayat-Ayat Cinta dan Andrea Hirata dengan novel Laskar pelangi yang mendulang emas di negara kita. Berarti, penulis itu pekerjaan yang menjanjikan,dong?
Pada akhirnya, saya tutup artikel ini dengan kata-katanya Doris Lessing :
Tanpa aku, industri buku takkan ada; Para Penerbit, agen, sub-agen,sub-sub agen, akuntan, pengacara, penuntut, fakultas sastra, profesor, tesis, buku kritik, pengulas, halaman-halaman buku-semua struktur luas yang berkembang biak ini ada karena orang kecil yang dihina, disepelekan dan dibayar kurang ini
(Susah deh, jadi orang penting,hehehe...)


Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Penulis..Profesi Rendahan?”

amethys mengatakan...

wuihhh, untukku...sering kali ujung pena tuh lebih tajam dari apa aja.....

"penulis" adalah profesi yg sangat mengagumkan...

selamat menulis...

speakup mengatakan...

Yup...
karena itu, ujung pena terpilih jadi alat pembunuh favorit ke2 setelah pisau,hehehe