Art of Appreciation


Omong-omong soal Hari Pendidikan Nasional, saya jadi ingat dengan salah satu pertanyaan yang sempat saya baca di sebuah milis, yaitu : Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?
Mungkin beberapa dari kita akan menjawab Amerika Serikat, Australia ataupun Inggris tapi sebenarnya, Negara yang menduduki posisi agung ini adalah Finlandia, yang menurut Satria Darma, peringkat tersebut diperoleh berdasarkan Hasil Survei Internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development melalui tes yang dinamakan PISA, yang mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, matematika. Hebatnya lagi, Finlandia bahkan unggul untuk pendidikan anak-anak mental atau kita simpulkan saja, Finlandia mampu membuat SEMUA siswanya berhasil (Fiuuh…Gile cing!!)
Nah, rahasia dari Negara ini ternyata terletak pada kualitas gurunya, yang mana, di Finlandia, hanya orang-orang dengan kualitas dan pelatihan terbaik yang boleh menjadi tenaga pendidik bahkan, guru adalah profesi bergengsi yang dihargai walaupun gaji meraka ngga bombastis.
Selain penghargaan mereka terhadap profesi guru, ada satu hal yang bikin saya salut sama Finlandia, yaitu pandangan mereka mengenai ujian. Jika Negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia malah percaya kalo ujian tersebutlah yang menghancurkan tujuan belajar siswa karena tujuan akhir mereka hanyalah : LOLOS UJIAN padahal banyak aspek yang tak bisa diukur dengan ujian (betulll!!)
Berdasarkan tulisan di atas, saya pun membuat sebuah kesimpulan sederhana mengenai strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yaitu : belajar menghargai.
Bagaimana mungkin Negara kita bisa memiliki pendidikan berkualitas jika kita ngga menghargai guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kita?
Bagaimana mungkin Negara kita bisa memiliki pendidikan berkualitas kalo semua hasil jerih payah siswa sebagai “pahlawan penerus bangsa“ hanya dihargai dengan tes 3 hari?
Dan, bagaimana mungkin Negara kita bisa maju dan memiliki pendidikan berkualitas kalo pemerintah tak menghargai para pemenang olimpiade akademik dan siswa berkualitas sebagai “pahlawan intelektual yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional sehingga mereka malah akhirnya lari untuk meminta perlindungan Negara lain?
Saya yakin, jika pemerintah bisa menghargai 3 macam pahlawan di atas, niscaya Indonesia bisa menggantikan Finlandia sebagai Negara dengan kualitas pendidikan ternaik di dunia. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya?

Posting Lebih Baru Posting Lama

13 Responses to “Art of Appreciation”

Annie mengatakan...

Hmm... bener banget mmg byk aspek gx bs dinilai dari lolosnya seseorg dari ujian...

Guru yg berkualitas mmg harus di perhatikan....

Annie benar2 ingin yg terbaik untuk guru2 and dosen2 annie yg benar2 memperhatikan pendidikan....

tapi byk juga ci guru2 and dosen2 yg asal aja jd pendidik karena tidak sepenuh hati menjadi pendidik, mungkin krn terpaksa aja jadi pendidik.

menjadi pendidik mmg benar2 butuh pangilan jiwa,,,

thx buat guru2 and dosen2 ku... yg udah ngajarin anni byk ilmu pengetahuan juga terkadang ilmu kehidupan...

Mari dukung kesejahtraan pahlawan tanpa tanda jasa...

lemonjuz mengatakan...

hi met kenal yaaa...
ngomongin pahlawan tanpa tanda jasa, aku udah lumayan ngerasain kok...
tapi jujur aku senang dan bahagia dengan profesiku, krn aku memang hobi ngajar..wkkk wkkk wkkkk

*mampir yeeee ke tempatku

Fauzan mengatakan...

Hmmm...kayanya masih ada kaitannya ama tulisan kamu yang kemaren dech..itu lo,tentang UNAS...

Bener juga ya..
UNAS kayanya emang menjadi momok yang sangat menakutkan bagi semua siswa.
'sekolah 3 tahun ditentukan oleh Ujian 3 hari'
itu yang biasa mereka(n saya dulu) suarakan.

N mengenai 'pahlawan tanoa tanda jasa', saya sangat setju tuh. pemerintah mesti lebih memperhatikan kesejahteraan guru2 yang pada kenyataan sekarang masih jauh di bawah garis kesejahteraan(sebagian aja sih, khususnya guru2 di daerah2 terpencil n terpelosok) dibandingkan dengan nasib guru2 di negara lain(kaya tau aj)
Hidup Guru..(mentang2 ayah aku guru)..
Hehe..

Thanks ya kemaren udah ngasih comment yang nyemangatin aku..

antown mengatakan...

(Fiuuh…Gile cing!!), cing itu kepanjangan dari kucing ya? hehehe...

beberapa hari yang lalu saya baca di koran, ada seorang anak yang sudah mendapat gelar kalo nggak salah profesor. umurnya masih 19tahun. luar biasa. makan apa ya tiap harinya?

Ernita D mengatakan...

negara2 scandinavia memang selalu terdepan dalam segalanya, baik pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan penduduk. sy setuju utk meningkatkan mutu pendidikan pertamakali harus menghargai kesejahteraan si pengajar alias guru...jgn lagi guru dianggap sbg "pahlawan tanpa tanda jasa", tapi harus diubah menjadi "pahlawan dengan tanda jasa". tanda jasa itu harus berupa gaji yang layak dan fasilitas kesejahteraan lainnya. selagi kesejahteraan belum terwujud, guru bakalan stress dan ngobyek terus, yg akibatnya akan mengurangi konsentrasi dalam urusan belajar-mengajar

indo mengatakan...

Hebat euy guru2 di Finland, beda jauh sama guru2 di Indonesia yang suka bisnis jawaban ulangan nasional...hehe

speakup mengatakan...

@annie: yup. karena itulah guru adalah salah satu profesi dengan takaran pahala paling banyak,hehehe...apalagi kalo kamu nonton "freedom writers".luar biasa!!
@lemonjuz: wah...guru,ya? two thumbs up buat kamu. Yang rajin ya ngajarnya
@fauzan:yup!!hidup guru!!
Kirim salam salut saya buat papa kamu,ya?
@antown:hehehe...saya juga pernah baca soal anak 19 tahun yang jadi profesor. pasti karena dia rajin dan gurunya hebat!!hehehe
@ernita:yup...100 buat mba' Ernita
@indo: setujuuu!!

pesisir-kidul mengatakan...

eh jangan salah.. pendidikan Indonesia juga maju lho.. tp dalam hal korupsi. bahkan tanpa ada sekolah korupsi pun, banyak pejabat2 yang mahir malakukannya. mereka juga menjadikan indonesia sebagai negara yang dikenal dunia internasional lho, tp dikenal sebagai salah satu negara terkorup. waduh..

diorockout mengatakan...

Guru adalah orang tua k2..
hmm,

astrid savitri mengatakan...

Hihi..membandingkan pendidikan di Finlandia sama Indonesia sama seperti membandingkan petinju dgn penari..lha wong beda banget! Di Finlandia, sekolah gratis segratis2nya dari TK sampe S2 kalau mau...

Moehfi mengatakan...

Aku pernah school phobia. Sempat benci kali sama yang namanya sekolah.

Pengalaman ku bersekolah dulu memang buat kecewa, tapi gag putus asa. Aku yakin koq, masih ada waktu dan ruang untuk memperbaiki.

Soal penghargaan thdp guru. Dulu waktu sekolah, aku selalu diajarkan sama orang tua untuk menghormati guru dan aku melakukannya. Sampai suatu saat, ada guru yang merasa bahwa "menghormati" adalah memberi saya HP, membelikan saya oleh2 kalau pergi liburan, berikan saya uang kalau mau lulus dan masih banyak lagi yang harus anda berikan untuk "menghormati".

Terbesit pertanyaan : Penghargaan kayak apa yang sepantas nya kita berikan pada guru?

speakup mengatakan...

@pesisir kidul :hahaha
@diorockout: benar sekali
@moehfi: kalo kita sih, dengan rajin belajar dan selalu bersikap hormat. Kalo pemerintah, yah dikasih kenaikan gaji,dong!!
@astrid savitri:iya, maunya sih indonesia juga kayak gitu,hehehe

Sandy Guswan mengatakan...

Betul sudah saatnya kita hargai guru. Mungkin gelar "pahlawan tanpa tanda jasa" merugikan guru, karena tersirat bahwa guru tidak perlu diberi penghargaan dalam bentuk apapun termasuk kesejahteraan yang lebih layak.