Arti Kegagalan Bagi Penulis

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya mengirimkan sebuah email yang berisi beberapa pertanyaan mengenai diri saya hanya sekedar untuk iseng-isengan dan karena saya juga kebetulan orang iseng, saya pun tanpa malu-malu menghabiskan waktu saya untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan tersebut (^_^).

Diantara semua pertanyaan yang diberikan, ada satu pertanyaan serius(yah, dibandingkan dengan:apa warna bola mata anda dan pop corn jenis apa yang anda sukai, pertanyaan tersebut boleh dibilang serius,hahaha...),yaitu: Apa yang menginspirasi anda?
Ini pertanyaan mudah, dan dengan cepat saya menjawab: KISAH JK Rowling. Lalu, mengapa JK Rowling?
Sekarang ini, siapa yang tak kenal J.K.Rowling? inilah “penyihir” sebenarnya yang telah mengipnotis seluruh dunia dengan tujuh serial penyihir dan telah dinobatkan menjadi wanita terkaya di Inggris. Semua terlihat begitu sempurna bagi wanita yang akrabnya dipanggil Jo ini namun, siapa yang pernah mengira bahwa dulunya Jo hanyalah wanita miskin yang hidup dari santunan pemerintah?

Cerita bermula saat Jo bekerja menjadi sekretaris di Amnesty International(London), sebuah organisasi yang berkampanye melawan penyalahgunaan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia. Saat itu, Jo sendiri mengatakan bahwa dia mungkin adalah sekretaris terburuk di dunia, mengingat dia tak pernah menyimak isi rapat karena sibuk berkhayal atau memikirkan nama karakter baru dari ceritanya. Cerita pun berlanjut pada suatu waktu, saat menunggu kereta yang terlambat selama 4 jam, berbagai ide bermunculan begitu saja di benaknya dan yang terbayang saat itu adalah seorang ANAK LAKI-LAKI BERKACAMATA, BERAMBUT HITAM ACAK-ACAKAN,YANG TAK TAHU BAHWA DIA ADALAH PENYIHIR.Dia pun tak mau melewatkan kesempatan berharga itu dan mulai menuliskan semua idenya namun sayang, pada saat itu, pena yang dia miliki tak berfungsi dengan baik dan tintanya habis sementara Jo sendiri malu untuk meminjam pena pada orang-orang di sekitarnya sehingga ketika pulang dan menggenggam pena, satu per satu detail yang tadi menghampirinya sudah mulai lenyap dan akhirnya, karena tak mau semua detail itu hilang, malam itu juga, Jo menulis episode Harry Potter yang pertama,Philosopher’s stone (Untuk pasaran Amerika, berjudul Sorcerer’s stone).
Akhirnya, pada tahun 1995, Jo pun menyelesaikan bukunya (fiuuh...) dan, karena saat itu katanya Jo minta ampun miskinnya, Jo pun mengetik ulang naskahnya dengan mesin tik manual murah beberapa kopian karena tak mampu membayar biaya fotokopi namun, Jo tak pernah menyerah dan selalu melihat semua hal dalam sudut pandang positif dan humor bahkan konon, tokoh Ron sendiri banyak terinspirasi dari kehidupannya saat itu.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin itu peribahasa paling tepat untuk menggambarkan kondisi Jo saat itu karena ternyata karyanya itu malah ditolak mentah-mentah oleh berbagai penerbit, sampai akhirnya Jo bertemu dengan Christopher Little, sang agen yang bersedia membantu Jo untuk menerbitkan bukunya. Namun, keberuntungan belum juga datang karena Christopher sendiri banyak ditolak berbagai penerbit dengan berbagai alasan, mulai dari kurang menarik, tak masuk akal, kurang membumi sampai terlalu banyak berkhayal.
Namun akhirnya, dewi fortuna mampir juga lewat persetujuan Bloomsbury Children’s Books untuk menerbitkan bukunya dengan syarat, Jo harus menggunakan dua inisial namanya dan karena itulah muncul nama Kathleen, nama nenek kesayangan Jo dan akhirnya, di setiap buku Harry Potter, nama penulis yang selalu tertulis dengan manisnya adalah J.K.Rowling
Cerita yang berliku-liku memang tapi, ada dua hal yang bisa saya tarik menjadi moral cerita ini:JANGAN TAKUT MENCOBA dan JANGAN KAPOK GAGAL.
Terkadang dalam kehidupan kita, kita takut mencoba hal-hal baru karena berbagai alasan, mulai dari alasan waktu (“Wah, saya terlalu tua untuk itu”,”Wah, itu bisa membuang waktu saya”), Resiko(“Bagaimana kalo saya merugi?”), sampe tanggapan orang lain(“Saya ingin menjadi penari balet profesional,tapi apa kata orang mengenai laki-laki yang ingin menjadi penari?”) yang membuat kita sendiri menciptakan jarak antara diri kita dan tujuan atau impian kita dan akhirnya, saat kita berusia lanjut, saat kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengecap KEGAGALAN untuk menuju KESUKSESAN, kita malah menyalahkan orang lain, bahkan Tuhan, padahal sebenarnya, semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Ingat, JK Rowling sebenarnya seorang sekretaris namun dia berani mengambil resiko dengan meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan pekerjaan impiannya,yaitu: menulis
Kondisi kedua adalah, saat kita telah mencoba dan akhirnya menyerah karena beberapa kali gagal padahal seharusnya kita tahu, kalo gagal bukan akhir dari segalanya namun sebaliknya, SEMAKIN BANYAK KITA GAGAL, SEMAKIN DEKAT KITA DENGAN KEBERHASILAN, seperti yang saya kutip dari jawaban Thomas Alfa Edison saat ditanya mengenai kunci kesuksesannya: “SAYA SUKSES, KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT KEGAGALAN”.
Kita harus tahu, kalo sukses bukan pemberian dan bukan pula hasil keberuntungan semata tapi, sukses sendiri adalah PROSES yang mana, dalam proses menuju SUKSES, terkadang kita harus melalui KEGAGALAN.
Adapun, berdasarkan cerita di atas, menurut saya, ada dua macam kegagalan:

1. Kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda

Kegagalan ini hanyalah bersifat sementara karena, asalkan kita bisa belajar dari kegagalan dan menerimanya dengan lapang, pintu sukses sudah berada selangkah lebih dekat dengan kita

2. Kegagalan sebagai kejatuhan yang terunda
Kita harus tahu, pada saat kita menyerah karena kapok gagal, saat itulah kita mengalami kegagalan permanen dan menunggu kejatuhan. Ingat, tanamkan dalam diri kita bahwa, pada saat kita berhenti mencoba maka pada saat itulah kita pantas disebut sebagai orang yang gagal alias pecundang.
See?Kita tak akan pernah sukses bila takut mencoba atau kapok gagal karena, jatuh-bangun ataupun gagal-sukses adalah seni kehidupan yang menandakan bahwa kita “hidup”, yang bila saya umpamakan dengan alat pengukur detak jantung, saat garis bergerak naik turun, itulah saat kita hidup dan saat garisnya datar-datar saja, itulah tandanya kita telah meninggal. Jadi, siapkah kita untuk membuat HIDUP KITA LEBIH HIDUP? (boleh kan, menyontek dari iklan,hehehe...)



“Winners never quit, Quitters never win !!”


Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Arti Kegagalan Bagi Penulis”

brainwashed mengatakan...

tulisannya memotivasi aku yang sedang atau hampir frustrasi karena jatuh-bangun terus, never give up, never say die. hi ivana, salam kenal. terima kasih sudah mampir dan isi comment di blog ku. :D

speakup mengatakan...

Yoi...
anytime deh...
maju sama-sama,ayuk,hehehe