Saya Bangga Jadi Penulis Hijau

Penulis yang saya maksud di atas bukan penulis yang masih hijau tapi penulis yang turut membantu untuk mengurangi efek pemanasan global. Lalu sekarang, pertanyaannya adalah : bagaimana caranya?
1.Teliti Sebelum Tulisan Anda Diprint
Bukan rahasia lagi kalau Penerbit lebih suka menerima naskah dalam bentuk hard Copy daripada Soft Copy karena lebih mudah dibawa kemana-mana jadi, yang ditugaskan membaca naskah kita juga nggak harus diaaaam di kantor terus-terusan atau sakit mata terkena cahaya dari layar komputer hanya untuk tetap membaca naskah-naskah bagus kita.
Nah, karena alasan tersebut, tentunya para penulis yang mengeposkan naskahnya pasti sering memakai kertas dalam jumlah banyak padahal, kertas yang sering kita gunakan berasal dari pohon-pohon yang ternyata berperan penting dalam mengurangi dampak pemanasan global karena selain bisa menghasilkan oksigen dan menyerap gas beracun,pohon-pohon tersebut juga bisa menyerap panas dan mengembalikannya lagi ke angkasa.
Berdasarkan fakta di atas, kita sebagai penyandang profesi yang amat sangat memerlukan kertas (apalagi kalau naskah 100-an halaman yang kita ketik harus dibuat lima rangkap.Gubraak!!), sudah seharusnya memeriksa dulu semua yang kita ketik (mulai dari huruf-huruf yang sering salah ketik sampai tanda baca yang salah penempatannya karena mengantuk) dengan amat sangat teliti sekali sebelum diprint. Kan sayang kalau diprint berulang-ulang karena selain memperbanyak ongkos, berarti kita turut berperan dalam berbagai penebangan pohon yang marak terjadi di Indonesia.
2.Mengurangi Pemakaian printer
Kalau seandainya ada tulisan kita yang nggak harus diprint alias bisa disave di komputer, USB atau CD, ada baiknya nggak usah diprint karena akan menghemat pemakaian kertas yang artinya, kita sudah mendukung keberadaan pohon-pohon yang ada di Indonesia ini. Supaya lebih jelas gambarannya, dari salah satu artikel yang saya baca di internet, dari 10 kg kertas koran yang siap dijual di loakan membutuhkan 1 pohon yang butuh 10 tahun untuk jadi besar (wuaduh!! Coba deh kertas salah print yang di rumah ditimbang, sudah berapa kilogram?)
3.Ciptakan Lingkungan Rumah Yang Hijau
Langkah Terakhir ini mungkin nggak secara langsung melibatkan profesi penulis tapi, terkadang kita sebagai penulis bisa terinspirasi bila melihat sesuatu yang menyejukkan jadi nggak ada salahnya kalo kita menanam pohon di halaman rumah kita yang sekiranya masih menyisakan tempat. Selain bisa mengurangi efek pemanasan global, kita juga bisa jadi tambah inspirasi karena tinggal di tempat yang sejuk dan sehat.
Setelah membaca langkah-langkah di atas, mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa harus penulis yang bertindak?
Kalau saya diijinkan menjawab, saya akan bilang karena, sadar atau tak sadar, komunitas penulis adalah sebuah KOMUNITAS BESAR yang tak bisa dipandang sebelah mata. Karena itu, saya yakin, bila semua penulis yang membaca tulisan ini bisa mengikuti langkah di atas, akan memberikan dampak yang amat sangat signifikan terhadap pengurangan efek negatif pemanasan Global.
Bagaimanapun, kita adalah bagian dunia ini, bumi ini, Indonesia ini...
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Yuk, jadi the GREEN WRITERS!!


Penghasilan Tambahan Untuk Penulis

Siapa sih yang nggak senang kalau bisa menghasilkan uang dari melakukan hal yang disukai?
Bagi para penulis yang mengangguk-angguk saat membaca pernyataan di atas, saya mau memperkenalkan situs baru untuk para penulis supaya bisa mendapat penghasilan tambahan, yaitu : ilmuiman.net

Apa Istimewanya Situs Ini?
Yang istimewa dari situs ini, kita nggak harus jadi penulis profesional untuk berpartisipasi karena mereka juga menerima tulisan dari pemula selama tulisannya bagus dan sesuai dengan tema,yaitu : cinta yang jenaka.

Honornya?
Jujur saja, saya belum sempat mengirimkan cerita ke situs ini tapi, saya berharap info ini bisa membantu teman-teman penulis sekalian. Berikut ini, info honor yang saya ambil dari situs tersebut :
Ada dua macam honor untuk menulis di situs ini, yaitu Bronze dan Gold :
Cerita BRONZE
Cerita yang masuk kategori BRONZE, adalah cerita yang sifatnya:
(a).Hanya fragmen-pendek (penggalan, yaitu biasanya bila sifatnya adalah varian dari suatu cerita lain yang utuh, atau sub-bagian dari suatu cerita yang panjang).
(b).Pelengkap cerita (misalnya: bagian daftar isi, ringkasan, dan sinopsis, dari suatu novel).
(c).Cerita pendek yang benar-benar pendek.


Cerita GOLD
Cerita yang masuk kategori GOLD, adalah cerita berkualitas, baik cerita utuh, maupun varian dari suatu cerita. Pada umumnya, penentuan, suatu cerita masuk kategori GOLD atau BRONZE adalah berdasarkan judgement redaksi. Untuk novel, maka per bab-novel dinilai satu GOLD, dan bagian pelengkapnya (sinopsis, ringkasan, daftar isi) diberi satu BRONZE.
Atas cerita yang tayang, penulis akan diberi apresiasi berupa SKOR (yaitu GOLD atau BRONZE, per cerita sesuai kategorinya). Pada saat ini, kurs untuk SKOR ini adalah:

1 SKOR BRONZE = Rp.25.000 dan 1 SKOR GOLD = Rp.40.000
SKOR ini dapat diuangkan bila penulis menghendakinya dan bersedia mengirimkan nomor rekeningnya ke redaksi. Rekening yang diharapkan adalah Rekening BCA. Rekening bank lain, yang dapat menerima transfer via ATM BCA, diperbolehkan, tapi sebetulnya tidak diharapkan (karena ada biaya transfer tambahan).
Berminat? Langsung saja kunjungi situsnya. Good Luck!!


Lomba Esai "Keajaiban Sentuhan Medis"

Saat sakit, jiwa kita juga rentan seperti halnya tubuh, dan staf medis
yang tak hanya sekadar menjalankan tugasnya membuat kita mampu melewati
masa-masa sulit itu.
Apakah Anda punya pengalaman menyentuh dan penuh inspirasi dengan dokter,
perawat atau praktisi kesehatan lain? Apakah praktisi kesehatan tersebut
berupaya keras menolong Anda atau berbagi sesuatu yang akan Anda ingat
selalu?
Sesuai dengan tradisi di Reader's Digest, cerita Anda dapat menginspirasi
banyak orang. Ceritakan kepada kami pengalaman Anda yang paling menyentuh
dengan praktisi kesehatan. Sepuluh cerita yang paling menyentuh
berkesempatan memenangkan total hadiah sebesar 42 JUTA RUPIAH, dan tiga
cerita yang paling menyentuh akan dimuat dalam Reader's Digest Indonesia.

Tiga pemenang berkesempatan meraih:
- Dua tiket pulang pergi kelas ekonomi ke Singapura (dari kota Indonesia
mana saja yang ada penerbangan langsung)
- Akomodasi hotel selama dua malam, dan
- Voucher belanja di Takashimaya, Singapura.

Tujuh pemenang berikutnya akan menerima voucher belanja di Takashimaya,
Singapura.

Kami ingin mengetahui pengalaman Anda, di mana dan kapan saja terjadinya.
Jadi, tulis dan kirimkan cerita Anda agar para pembaca lain turut
tersentuh!

Kirimkan tulisan Anda ke contest@readersdige st.co.id atau lewat pos ke

Lomba Esai "Keajaiban Sentuhan Medis"
Femina Group
Bagian Iklan Reader's Digest Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said kav. B 32-33
Jakarta 12910

Syarat dan aturan lomba:
Singapore Tourism Board memegang hak publikasi seluruh cerita dan foto.
Cerita harus berdasarkan kenyataan dan dapat diverifikasi.
Panjang tulisan sekitar 200 sampai 300 kata.
Batas akhir penyerahan tulisan adalah 25 April 2008.
Tiga pemenang utama harus setuju diwawancarai dan difoto untuk tulisan
feature di Reader's Digest Indonesia.
Hadiah harus diambil paling lambat 31 Desember 2008.
Hadiah tidak bisa ditukar dengan uang.
Hak kepemilikan hadiah tidak dapat dipindahtangankan.
Hadiah tidak termasuk biaya fiskal dan pajak-pajak perjalanan maupun jasa.


Arti Kegagalan Bagi Penulis

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya mengirimkan sebuah email yang berisi beberapa pertanyaan mengenai diri saya hanya sekedar untuk iseng-isengan dan karena saya juga kebetulan orang iseng, saya pun tanpa malu-malu menghabiskan waktu saya untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan tersebut (^_^).

Diantara semua pertanyaan yang diberikan, ada satu pertanyaan serius(yah, dibandingkan dengan:apa warna bola mata anda dan pop corn jenis apa yang anda sukai, pertanyaan tersebut boleh dibilang serius,hahaha...),yaitu: Apa yang menginspirasi anda?
Ini pertanyaan mudah, dan dengan cepat saya menjawab: KISAH JK Rowling. Lalu, mengapa JK Rowling?
Sekarang ini, siapa yang tak kenal J.K.Rowling? inilah “penyihir” sebenarnya yang telah mengipnotis seluruh dunia dengan tujuh serial penyihir dan telah dinobatkan menjadi wanita terkaya di Inggris. Semua terlihat begitu sempurna bagi wanita yang akrabnya dipanggil Jo ini namun, siapa yang pernah mengira bahwa dulunya Jo hanyalah wanita miskin yang hidup dari santunan pemerintah?

Cerita bermula saat Jo bekerja menjadi sekretaris di Amnesty International(London), sebuah organisasi yang berkampanye melawan penyalahgunaan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia. Saat itu, Jo sendiri mengatakan bahwa dia mungkin adalah sekretaris terburuk di dunia, mengingat dia tak pernah menyimak isi rapat karena sibuk berkhayal atau memikirkan nama karakter baru dari ceritanya. Cerita pun berlanjut pada suatu waktu, saat menunggu kereta yang terlambat selama 4 jam, berbagai ide bermunculan begitu saja di benaknya dan yang terbayang saat itu adalah seorang ANAK LAKI-LAKI BERKACAMATA, BERAMBUT HITAM ACAK-ACAKAN,YANG TAK TAHU BAHWA DIA ADALAH PENYIHIR.Dia pun tak mau melewatkan kesempatan berharga itu dan mulai menuliskan semua idenya namun sayang, pada saat itu, pena yang dia miliki tak berfungsi dengan baik dan tintanya habis sementara Jo sendiri malu untuk meminjam pena pada orang-orang di sekitarnya sehingga ketika pulang dan menggenggam pena, satu per satu detail yang tadi menghampirinya sudah mulai lenyap dan akhirnya, karena tak mau semua detail itu hilang, malam itu juga, Jo menulis episode Harry Potter yang pertama,Philosopher’s stone (Untuk pasaran Amerika, berjudul Sorcerer’s stone).
Akhirnya, pada tahun 1995, Jo pun menyelesaikan bukunya (fiuuh...) dan, karena saat itu katanya Jo minta ampun miskinnya, Jo pun mengetik ulang naskahnya dengan mesin tik manual murah beberapa kopian karena tak mampu membayar biaya fotokopi namun, Jo tak pernah menyerah dan selalu melihat semua hal dalam sudut pandang positif dan humor bahkan konon, tokoh Ron sendiri banyak terinspirasi dari kehidupannya saat itu.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin itu peribahasa paling tepat untuk menggambarkan kondisi Jo saat itu karena ternyata karyanya itu malah ditolak mentah-mentah oleh berbagai penerbit, sampai akhirnya Jo bertemu dengan Christopher Little, sang agen yang bersedia membantu Jo untuk menerbitkan bukunya. Namun, keberuntungan belum juga datang karena Christopher sendiri banyak ditolak berbagai penerbit dengan berbagai alasan, mulai dari kurang menarik, tak masuk akal, kurang membumi sampai terlalu banyak berkhayal.
Namun akhirnya, dewi fortuna mampir juga lewat persetujuan Bloomsbury Children’s Books untuk menerbitkan bukunya dengan syarat, Jo harus menggunakan dua inisial namanya dan karena itulah muncul nama Kathleen, nama nenek kesayangan Jo dan akhirnya, di setiap buku Harry Potter, nama penulis yang selalu tertulis dengan manisnya adalah J.K.Rowling
Cerita yang berliku-liku memang tapi, ada dua hal yang bisa saya tarik menjadi moral cerita ini:JANGAN TAKUT MENCOBA dan JANGAN KAPOK GAGAL.
Terkadang dalam kehidupan kita, kita takut mencoba hal-hal baru karena berbagai alasan, mulai dari alasan waktu (“Wah, saya terlalu tua untuk itu”,”Wah, itu bisa membuang waktu saya”), Resiko(“Bagaimana kalo saya merugi?”), sampe tanggapan orang lain(“Saya ingin menjadi penari balet profesional,tapi apa kata orang mengenai laki-laki yang ingin menjadi penari?”) yang membuat kita sendiri menciptakan jarak antara diri kita dan tujuan atau impian kita dan akhirnya, saat kita berusia lanjut, saat kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengecap KEGAGALAN untuk menuju KESUKSESAN, kita malah menyalahkan orang lain, bahkan Tuhan, padahal sebenarnya, semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Ingat, JK Rowling sebenarnya seorang sekretaris namun dia berani mengambil resiko dengan meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan pekerjaan impiannya,yaitu: menulis
Kondisi kedua adalah, saat kita telah mencoba dan akhirnya menyerah karena beberapa kali gagal padahal seharusnya kita tahu, kalo gagal bukan akhir dari segalanya namun sebaliknya, SEMAKIN BANYAK KITA GAGAL, SEMAKIN DEKAT KITA DENGAN KEBERHASILAN, seperti yang saya kutip dari jawaban Thomas Alfa Edison saat ditanya mengenai kunci kesuksesannya: “SAYA SUKSES, KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT KEGAGALAN”.
Kita harus tahu, kalo sukses bukan pemberian dan bukan pula hasil keberuntungan semata tapi, sukses sendiri adalah PROSES yang mana, dalam proses menuju SUKSES, terkadang kita harus melalui KEGAGALAN.
Adapun, berdasarkan cerita di atas, menurut saya, ada dua macam kegagalan:

1. Kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda

Kegagalan ini hanyalah bersifat sementara karena, asalkan kita bisa belajar dari kegagalan dan menerimanya dengan lapang, pintu sukses sudah berada selangkah lebih dekat dengan kita

2. Kegagalan sebagai kejatuhan yang terunda
Kita harus tahu, pada saat kita menyerah karena kapok gagal, saat itulah kita mengalami kegagalan permanen dan menunggu kejatuhan. Ingat, tanamkan dalam diri kita bahwa, pada saat kita berhenti mencoba maka pada saat itulah kita pantas disebut sebagai orang yang gagal alias pecundang.
See?Kita tak akan pernah sukses bila takut mencoba atau kapok gagal karena, jatuh-bangun ataupun gagal-sukses adalah seni kehidupan yang menandakan bahwa kita “hidup”, yang bila saya umpamakan dengan alat pengukur detak jantung, saat garis bergerak naik turun, itulah saat kita hidup dan saat garisnya datar-datar saja, itulah tandanya kita telah meninggal. Jadi, siapkah kita untuk membuat HIDUP KITA LEBIH HIDUP? (boleh kan, menyontek dari iklan,hehehe...)



“Winners never quit, Quitters never win !!”


Kisah Si Penulis Tanpa Tanda Jasa

“Senang Sekali novel pertamaku ini akhirnya naik cetak juga ...”
Cyntia Surentu-Pacarku Selebriti
“Akhirnya! Novel pertama gue diterbitin juga...”
Eifel – Teman Tapi Musuh
“UNBELIEVABLE!! My Lullaby yang menjadi proyek iseng masa liburan akhirnya diterbitkan...”
Vie – My Lullaby

Tak terasa, air liur saya menetes juga (Cuih! Dasar Jorok!). Yaah, siapa juga sih yang nggak iri melihat banyak teman-teman penulis yang sudah berhasil menerbitkan buku sementara saya? Hanya terdiam dan ngiler membaca sederetan ucapan terima kasih mereka (huwaaaa....).
Memang, membaca ucapan terima kasih adalah salah satu hobi aneh saya, yang ternyata berhasil untuk terus memompa saya agar dapat terus memotivasi diri. Selain hobi aneh tersebut, saya juga suka mengunjungi Forum Pulau Penulis yang selalu menyumbangkan mental positif terhadap PTTJ (Penulis Tanpa Tanda Jasa) seperti saya agar selalu semangat. Pokoknya forum itu TOP deh. Buat yang memang hasratnya menulis, perlu deh berkunjung ke sana.

Di samping dua hobi saya itu, saya juga membiasakan diri untuk terus membaca chicken soup for the writer’s soul yang sudah saya anggap sebagai “kitab pegangan penulis” saya yang mana, di dalam buku tersebut, ada rentetan kalimat yang benar-benar mengerti penderitaan (hiperbola,huh!!) PTTJ seperti saya. Mm, saya tulis di sini ya, biar teman-teman juga tambah semangat :
Ada Satu Hal Yang Dimiliki Semua Penulis Sukses : Tabah Menghadapi Penolakan. Berulang Kali (Ini mah gue banget!!he..he..he..hikz!!). Mungkin Selama Bertahun-tahun. Seorang Profesional Sejati mempunyai sebuah keranjang sampah penuh kertas, satu laci (atau lebih) penuh surat penolakan dan tentu saja, satu lagi tulisan yang sedang dikerjakan.Rasanya, setiap membaca kalimat tersebut, semangat saya terus terpompa karena bagaimanapun kecewa dan hancurnya perasaan saya (ciee..kalah deh patah hati) setiap kali ditolak, saya harus tetap menyiapkan tulisan yang baru karena saya jadi teringat kembali dengan alasan saya menulis yaitu : ......
Alasannya hanya karena menulis memang satu-satunya hal yang AMAT SANGAT SAYA SUKAI. Saya menulis karena memang begitulah saya dari kecil bahkan waktu SD, saya pernah menjual selembar cerita rekaan saya seharga Seratus Rupiah pada seorang teman saya. Entah karena dianya yang nggak enak sama saya, dianya kebanyakan uang, saya memang jago pemasaran atau...cerita saya memang benar-benar bagus (saya cenderung percaya pada yang terakhir ini,hahaha...Narsis!!)
Soal sistem penjualannya, bila saya ingat-ingat, rasanya lucu juga. Ceritanya, saya menggambar enam kotak dalam selembar kertas yang mana, setiap kotaknya saya tulis judul-judul cerita yang sebagian sudah saya tulis dan sebagiannya lagi belum sempat saya tulis tapi ide ceritanya sudah ada di kepala saya. Nah, lucunya, satu-satunya teman saya (sebut saja mawar) yang membeli waktu itu malah memilih judul yang belum saya tulis. Wuiih, langsung deh saya tulis cepat-cepat dan langsung dijual. HOAAAAAH!!!!Senangnya....Penghasilan Pertama Dari Menulis !!!
Pokoknya, menulis sudah menjadi bagian hidup saya sejak SD bahkan sampai kuliah dan akhirnya, satu dari artikel-artikel yang saya kirim diterbitkan juga di majalah cita cinta. Wuaah..senangnya...
Mm...rasanya, hidup saya hampa tanpa menulis dan karena itu, saya akan terus membagi pengalaman menulis saya (dan juga para penulis lain) yang saya harap bisa memotivasi dan menghibur teman-teman penulis semua untuk tetap berkarya.
Akhirnya, bagi teman-teman penulis, keep on writing,ya...karena, seperti kata Bud Gardner :
Ketika Kamu Bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau di sepanjang koridor. Tapi ketika kamu menulis, kata-katamu bergaung sepanjang Jaman.
(saking sukanya aku sama kalimat ini, sampe aku taruh di skripsiku lo!!)

Nb: bagi yang punya pengalaman dan cerita yang memotivasi para PTTJ, silahkan ditulis di comments, nanti saya postingkan beserta nama dan URL Blog kamu


Causes of Ilegal Music Product's Existence

What causes the existence of Illegal Music Product in Indonesia ? Let’s see factors below:


•Advance of Technology
Let’s imagine what if there is no technology advance in Indonesia and people don’t know how to record song whether by burning a CD, downloading song from internet or the other ways, I believe the piracy will not become a serious problem for us. Actually, the advance of technology purposed to be good but, in this difficult economic condition, it is hard for people not to take advantage for this easiness in making the illegal copy and sell it for profit of their own. All they need just Computer (can be bought or just hire it ), Printer, Scanner, Empty CDs, Master CD, Paper and Plastic Seal and, they can be suppliers. What an easy way to get money. So, by this easiness for being the suppliers, how can Illegal CD and MP3 doesn’t exist in the market?
•High Price of original Music Product
As what have been told before, Illegal Music Product exist as the substitution for the original one because of the expensive price of that good so, we can make one conclusion here that, the pricing policy connected with original goods determines the existence of the Illegal one. Because, as what have been said in substitution theory, the more the price of the original increased, the more the demand for Illegal. In this case, supplier of the original also realize this condition but, they can’t do nothing about the price because the price covers their cost and the reduction of price will create loss for them. So, what makes it expensive?
To make one original product, there are many procedures to be passed. One of it is payment of royalty, for the artist, composer ( mechanical royalty / copyright ) and Producer. Royalty can be divided into : Royalty paid for unit product sold and Royalty paid as a whole. Royalty for a new artist is around 5,5 – 6% from the unit price, middle-level artis is around 7 – 10 % and upper-level artist is around 10-11%. Royalty for the composer which exist after the composer gives the authority for the other parties ( can be record company or publisher ) to produce his/her product. Then, Royalty for the producer. The existence of this royalty is usually for the making of solo album and, usually, this royalty is almost half from the unit price. Beside royalty, there are PPN (Pajak Pertambahan Nilai) which is around 10%, PPH ( Pajak Penghasilan ) which is around 15%, PPBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) which is around 20-35%, Seller Agents fee, Copyright tax paid to ASIRI (Sound Recording Industry Association of Indonesia), box and packaging cover, retribution, production cost ( based on whether the cost is high or not ), Marketing Cost and other miscellaneous costs. So, it is not weird if the price of the illegal Music Product is cheaper, that is, because they don’t have to pay and pass all the procedures above.

Then, after it existed, it began to develop and develop until its quantity exceeds the original one and become the winner in the competition. So, what actually can support it to be happened? Just see the factors below :

•Supported complement
In this case, the complement also takes role and what could be the perfect complement for illegal CD and MP3 beside the player? It has been told before that there are also the Illegal Goods In the form of CD and VCD player and illegal here means cheap so, when the Quantity demand for Illegal Music Product increases, Quantity demand for Illegal CD and VCD Player will also increases. Then, CD and VCD player supplier will supply more for profit and of course, it will increase the demand for Illegal CD because people tend to buy more CD if they already had the player.
•High profit for the sellers
Now, talking about the sellers. What makes them interested to involve in this business ? the one and only answer is its profit, which tease them to involve in this risky business. Based on one sample case from POLDA SULUT, the seller just buy it for Rp.2,200,-/unit and sell it around Rp. 5,000.-. The profit they get is around Rp.2,800.-/unit. Let’s assume If in one day, there are 50 units sold, the profit will be Rp. 140.000,-. About the capital, just say they must buy 1000 pieces so, they just prepare Rp.2,200,000.- to begin this business and create profit. It’s very easy way in building a business, isn’t it?


•Consumer Preferences
Consumers are heterogeneous which means, in this case, we can divide the consumers to : Consumers who like Quality product, like Cheap Product, and some like Quality and cheap product. This concept explains that, it’s not impossible for middle-upper income people to buy illegal while the other middle-income people keep purchasing the original one. This preference also will determine whether illegal will be normal goods or inferior goods while income increases. Some people who prefer original Music Product to illegal one will leave illegal while their income increases but, for those who prefer illegal Music Product with good quality to better-quality original will buy more illegal Music Products consider that, they can get more entertainment (counted based on quantity purchased ) than just buy small quantity of original one. These preferences that determine the demand for Illegal and because currently, Indonesian people tend to be illegal Music Product -minded, there will be high demand and high demand will stimulate high supply that creates more existence of illegal
• Indonesia’s position as Developing Country
In this case, Indonesia’s position is as developing country especially, as low- income level country which means, there is a serious poverty problem inside ( see Figure 6 ) and the poor thing here, in the previous year ( 2005 ), poor people increases until 29.7 % or around 73 millions people. What a suprising value, consider that, government expect the decreasing quantity of poor people in 2005. This quantity then, support the existence of Illegal Music Product because low income people tend to love the cheap goods than the original one because of their less affordability through the goods also, poor people need extra income and it can be got by selling Illegal Music Product.

•Less Awareness to Intellectual Property Right
According to data from Indonesia’s General Directorate of HCPM ( Intellectual Property, Patent and brand ), since 1991 – 1997, for usual patent, there are 19,282 foreign patents and 319 domestic patents while for simple patent, there are 349 foreign patents and 260 domestic patents. As the information, the quantity of domestic patents registered never has a significant increasing, just around 1.9 - 4%. Just compare it with Japan which register around 320,000 domestic patents / year or USA which register around 100,000 domestic patents / year. This low quantity in Indonesia happened because, as general, in getting Intellectual Property right, people must propose an application or register the intellectual property and that’s the main problem here because, the creator in Indonesia just give a little attention connected with registering their product because, they think, in Indonesia, the law protection still weak so, why should they waste money and time to register ( while the time can be used to create ) if later, their Music Product will be pirated and no significant action from the law enforcer. Now, less attention to Intellectual Property Right will make many products created and existed without protection and it will be a very good news for the people who pirate the goods because, there will be less or no fine for them to copy or pirate the original goods.

•Weakness of Law Enforcement in Indonesia
Actually, for destroying the existence of Illegal Music Product in Indonesia is not so difficult for the law enforcer in Indonesia because there is UU No.19 / 2002 about intellectual property right which become the strong reason for the Law Enforcer to arrest and seizure connected with illegal Music Product. As what have already happened in Indonesia, Law Enforcers begin from socializing this law to its entire staff especially about its fine to the people who break this law which are in the form of Jail or just Material Fine. After the socialization, begin from 2003, Law Enforcer did some arrests and seizures in some places but, it doesn’t take a long time consider that after some periods, this activity become less and less and finally, the Illegal Music Products still exist even, there is a trade center in some cities in Indonesia like Jakarta and Surabaya so, what actually cause this thing happened ?
This case may be happened because of lack of knowledge about the characteristic of Illegal Music Product itself which create a barrier for law enforcers to do arrest and seizure directly also, less budget and Human Resource connected with destroying the illegal Music Product then, create big weaknesses of Indonesian law to destroy the piracy activity in Indonesia and these weakness gives more opportunity for the people who create the illegal Music Product.

Secuil Inspirasi Buat Para Penulis

MALAM YANG SEMPURNA UNTUK MATI

Diambil dari cerita “A perfect Night to Die” karya Dierdre W Honnold di Chicken Soup for The Writer’s soul

Ketika aku masih kecil, ibuku sangat suka berbicara tentang cerita yang suatu hari akan ia tulis dalam bukunya. Ia akan menggunakan semua pengalamannya, dan segala sesuatu yang telah ia pelajari tentang semua pengalamannya, dan segala sesuatu yang telah ia pelajari tentang semua orang yang ia kenal, dan menulis sebuah novel. Aku selalu senang ketika ia mulai mengatakan hal itu, karena entah bagaimana hanya dengan membicarakan hal itu tampaknya membuat ibu bahagia.

Itu pasti sesuatu yang menyenangkan, pikirku, menulis sesuatu yang begitu indah! Kami semua akan menjadi terkenal dan kaya, ibu berjanji. Dan aku mempercayainya; hanya membicarakannya sudah membuat ibu begitu bahagia. Aku bahkan tak bisa membayangkan betapa bahagianya kami ketika hal itu menjadi kenyataan.

Ketika tumbuh semakin besar, aku menjadi tidak sabar jika ibu mulai berbicara mengenai bukunya. Karena bahkan saat itu pun aku tahu jika seseorang ingin menjadi penulis, ia harus menulis, bukan membicarakannya. Entah bagaimana, ibu tidak pernah menulis.Tapi aku melakukannya, dan secara ajaib, beberapa tulisanku diterima sehingga aku pun menjadi penulis.

Beberapa tahun kemudian, ayahku menelepon; tiba saatnya bagiku dan saudara laki-lakiku untuk pergi menjenguk ibu kami untuk terakhir kali.

Ibu meninggal sebelum fajar.

Bukunya pun mati bersamanya.

Padahal, jika ia menulisnya, pasti bagus.

Ceritanya telah menghangatkanku, menghiburku, menggembirakanku, dan membuat kami menjadi semakin dekat ketika aku masih kecil. Buku itu berisi semua impian dan harapan ibuku, dan memberinya sesuatu untuk didambakan.

Buku itu mati malam itu.

Seorang penulis harus menulis. Itulah warisan ibuku untukku. Betapa aku sangat ingin membaca cerita ibuku.

Aku harus memastikan anak-anakku sendiri takkan penah merasakan penyesalan sedalam itu, mendamba sebesar itu untuk mengetahui ibu mereka. Aku harus memastikan bahwa kata-kata di dalam diriku mempunyai suara yang bisa kubagi. Aku akan menulis.

Dan pada malam kematianku, anak-anakku akan mengetahuiku. Mereka akan mengetahui bahwa aku mencintai mereka dan alasannya. Mereka akan mengetahui aspek hidup yang kucintai, dan bahwa aku seorang penulis.

Maka saat itu akan menjadi sebuah malam yang sempurna untuk mati.



Note: Jika kamu tertarik menjadi penulis, buku Chicken Soup for The Writer’s soul ini adalah buku yang sempuna untuk menjadi pegangan kamu. Kalo untuk aku pribadi, ini salah satu cerita yang paling menyentuh dan bikin aku berjanji kalo suatu saat, saat sudah waktunya aku menghadap Saat Yang Kuasa, aku nggak boleh ada penyesalan. Mungkin ini sebabnya sampai ini kamu masih membaca tulisan-tulisan urakan dari Orang Aneh yang satu ini yang, entah mengapa merasa bahwa menulis bisa menghidupi dirinya.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama