Mei 2008

Efforts which has Already Done to Reduce The Existence of Illegal Music Product

And...The Efforts are :

•Constitution or UU of Intellectual Property Right
Illegal goods can be found easily, in trotoar, Vendor’s Place, market, even in place like supermarket, hypermarket and department store but, on July 29 2003, the first day Constitution No. 19 Tahun 2002 about Intellectual Property Right come into operation, we can’t see it anymore in most big stores, supermarket and department store because it has already cleaned from illegal Music Product and begin to sell just the original one caused by feeling of fear to the fine and the existence of their business. That’s why, in 2003, there are decreasing in the quantity of illegal goods from 363.5 millions to 356.2 millions and, this decreasing can increase Music Industry’s growth by 10.9%. Now, there is a decreasing but, the quantity of illegal still exceed the original one because, we can still find the illegal goods in the market, trotoar and Vendor’s place where the seller seemed don’t care about the fine and this constitution and they can’t be blamed because most of the sellers live from this business so, their level of afraid to the risk is just small. And, I believe the transaction of illegal Music Product in those places will never end since the demand for illegal goods is still high. Let’s say, the law enforcers do the arrest and seizure, it will make supply curve shift to the left ( decrease ) and creates the higher price of the good ( but still categorized cheap compared with the original one because, they don’t have to pass some procedures )for these goods because the demand is constant and creates more profit for the seller, consider that the caught activity reduces its competitor and people will have less alternative for sellers. So,because this is illegal business, and supported by law of Supply, there will be other suppliers appeared and the price will decrease again and the activity will come back like before.

•Copyright Tax
Based on APBN 2005, there will be Copyright Tax for original goods as the law instrument to create easiness for the law enforcer to recognize the original and illegal Music Product, for the certainty in watching the goods physically and administratively also, Copyright Tax have its own fine ( see appendix ). But, how far it will help? I still doubt that, this Copyright Tax can be worked because, although, there is an easier way for the law enforcer to recognize the goods and that Copyright Tax will be used to support the illegal-goods destruction project, the law enforcer in Indonesia still weak so, there will be no significant change in the quantity of illegal existed and sold as what the government expected. Now, talk about charging Copyright Tax around 1% per unit sold, what a small quantity but, consider the substitution theory, it will stimulate more demand for illegal. Also, Copyright tax will make longer the bureucracy line and create one more difficulties for the Music Creator.
•Anti-Piracy Campaign
This way have already done by artists in Indonesia to invite society not to buy the illegal Music Product and I think, it can be worked because in marketing, there is person who act as opinion leader so, in this case, I assume the artists like SLANK and Delon are the opinion leaders in which, they have fanatic fans that will follow whatever they said or do so, since the artists keep telling not to buy illegal, their fans will do that. This way will not cover so much people but, at least, it can help to reduce. As the real action of this campaign, begin from May 22 2003, there is anti-piracy campaign held by ASIRI by doing a show in Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta and Semarang ) with the theme of “ 100% Anti-Piracy Music “. Also, there is “ Save Our Music “ Campaign in some schools in Jakarta.
•Offer a competitive price
Between all the efforts, in my mind, this is the most efficient efforts in which, done by the party from Music Industry itself where, we can purchase CD with a lower price than usual. How can it be happened ?
As what have been said by Syanne Susita ( Promotion Manager Universal Music Indonesia ) and Zakaria (Promotion Manager EMI MUSIC Indonesia ), it can be happened because of the reducing of Production and Marketing Cost. Also, the packaging made as cheap as possible and there is no huge promotion anymore to reduce cost. The breakthrough here is the existence of Royalty Break held by Universal Music to create a specific deal and agreement and deal with the artists so, the royalty must be paid is less than what usually paid in the past. This Royalty Break then, take a big role to reduce the cost and automatically, the price so, currently, Illegal Music product with reachable price has already existed so, it will give more tight competition with illegal Music products because people will think twice to buy illegal music product while currently, the original one has a reachable price.
•Improve controlling process of the import of raw material
Actually, one way to reduce illegal Music Product is to control the import of raw material of Optical Disc which in this case, is a primary need for production of Illegal Music Products in which, without that, production process will not be done. By seeing this condition, Indonesia’s Department of Industry has already released some regulations to prevent the piracy to be happened, such as : duty to put Certificate of Analysis and technical specification based on serial number of production to each Polycarbonate Raw Material needed. Beside that, to each weight minimal 500 kilograms package of polycarbonate optical grade must have logo, name of producer, serial number of production, name of country, weight and kind of Polycarbonate. About the machine to produce it and the possession of Empty Optical Disc also has been put in Regulation No. 05/M-DAG/PER/4/2005 On April 15 2005 about the requirement of importing machine, Machine Tools, Raw Material and Optical Disc. Now, the regulation has already existed but, the supervision from the government is still weak which make the regulation seemed useless and just can give less contribution in reducing Illegal Music product in Indonesia.

Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini?


Selamat Pagi.
Sudahkah kamu lakukan dua hal terpenting ketika kamu bangun?
Jika belum,lakukanlah :
1.Bersyukur, karena kamu masih tetap hidup
2.Mandi, supaya orang di sekitar kamu juga tetap hidup.Have a Nice Day


SMS di atas muncul dari Handphone saya beberapa hari lalu dan langsung membuat saya tersenyum. Sungguh cara mengawali hari yang luar biasa, dan saya langsung menambahkan daftar syukur saya.
1.Saya Bersyukur karena saya masih punya teman yang perhatian dan mau mengirimkan SMS pada saya
2.Saya Bersyukur untuk eksistensi Handphone yang membuat teman saya tak perlu repot-repot datang ke rumah saya untuk membuat saya tersenyum di pagi hari.
3.Saya bersyukur untuk diciptakannya SMS sehingga teman saya hanya perlu menghabiskan sejumlah kecil uang untuk membuat saya tersenyum…
Dan masih banyak lagi hal yang saya syukuri sehingga menyadarkan saya betapa rasa bersyukur membuat saya merasa lebih baik dan lebih bersemangat menjalani aktivitas saya.

Berbicara mengenai bersyukur membuat saya teringat mengenai “THE SECRET”, buku fenomenal yang mempopulerkan apa yang disebut sebagai “Law Of Attraction” dimana, apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi apa yang akan terjadi pada kita. Seperti saat kita memulai hari dengan penuh syukur dan kegembiraan maka kita pun dijamin akan mengakhiri hari kita dengan perasaan yang sama saat kita berangkat tidur, karena kita “menarik” hal-hal positif ke dalam diri kita.
Lain lagi bila kita mengawali hari dengan wajah cemberut dan keluhan untuk berbagai masalah yang kita hadapi yang mana saya jamin, kita pun akan mengakhiri hari kita dengan perasaan yang sama karena kita menarik hal-hal negatif untuk mendekati kita. Hal inilah yang kemudian mendasari terciptanya “hari sial” atau “waktu sial” padahal kita sendiri yang sebenarnya menjadi pencipta hal-hal tersebut.

Saya sadar, merasa bersyukur untuk segala hal memang sangat sulit maka itu, sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya akan menceritakan tentang seorang bernama Matthew.
Matthew adalah seorang pemuda rajin yang sangat menginginkan laptop untuk menunjang pekerjaannya sebagai penulis. Untuk itu, dia pun bekerja keras dan berusaha menghemat supaya uang yang disimpannya bisa dipakai untuk membeli laptop. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu Matthew datang juga, dimana uangnya cukup dan dia bisa segera membeli laptop yang sudah diimpikannya sejak lama. Namun, sayang beribu sayang, dalam perjalanannya menuju ke toko laptop, uangnya habis dirampok maling sehingga dia hanya pulang dengan tangan kosong.
Saat sampai di rumahnya, dia duduk dan mulai berdoa,
“Terima Kasih Tuhan, karena walaupun uang saya dicuri, saya masih mempunyai simpanan uang lain yang masih aman di bank.
Terima Kasih Tuhan, karena yang dia ambil hanya uang saya, dan bukan nyawa saya.
Dan, Terima Kasih Tuhan, karena pada saat itu, saya adalah pihak yang dicuri dan bukannya pihak yang mencuri…”
Bukanlah sebuah hal yang mudah untuk bersyukur saat kita berada dalam sebuah masalah dan kesulitan besar namun, tak ada salahnya kita mencoba untuk selalu bersyukur dalam segala hal saat mengawali hari untuk menciptakan waktu-waktu yang luar biasa menyenangkan sampai saat kita mengakhiri hari kita di tempat tidur.
Sudahkah anda bersyukur hari ini?

Pemerintahan Yang Ideal


Menurut kamu, bagaimanakah pemerintahan yang ideal itu?
Kalo menurut saya, pemerintahan yang ideal adalah pemerintahan yang bisa dipercaya oleh rakyatnya. Mengapa?
Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar kabar burung bahwa harga BBM akan naik sekitar 30% (walau akhirnya ibu Sri Mulyani bilang kalo bakal naik sekitar 28 koma sekian persen) yang kemudian menimbulkan demo dan kekacauan di daerah seluruh Indonesia karena logikanya, walaupun BBM katanya lebih banyak dipake oleh para borju, tapi toh ujung-ujungnya para borju tersebut akan membebankan hal tersebut pada rakyat miskin yang berujung pada kenaikan harga.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah pun kemudian mengeluarkan ide mengenai BLT alias Bantuan Langsung Tunai, yang malah membuat rakyat tambah marah karena pemerintah Indonesia adalah pemerintahan yang tak dapat dipercaya oleh rakyatnya. Rakyat bersikukuh menolak BLT karena mereka tak percaya kalo BLT bisa didistribusikan secara adil dan sampai pada yang memerlukan disebabkan oleh budaya korupsi yang merajalela di Indonesia. Mau jadi apa Indonesia kalau Pemerintahnya tak lagi dipercaya oleh para rakyat?
Sekedar tambahan, baru-baru ini muncul iklannya bapak Wiranto dari Partai Hanura yang menuding bahwa Bapak Susilo mengingkari janjinya tentang tak akan ada kenaikan BBM sampai 2009 yang, seandainya saja hal itu benar adanya, sungguh memalukan kalo seorang presiden bisa mengingkari janjinya pada rakyat yang telah memilih dia.
Pada akhirnya, ketidak mampuan pemerintahan untuk mendapat kepercayaan rakyat pun kemudian menuai lelucon seperti di bawah ini:
Seorang nenek yang miskin dan putus asa, menulis surat kepada Tuhan agar mengirimkan uang sebesar 10 juta Rupiah untuk menghidupi keluarganya setelah harga-harga pada naik. Nenek itu pun menulis di depan surat tersebut :
Kepada Yth : Tuhan Yang Maha Esa di Surga.
Dan mengirimkannya lewat kantor pos. Kemudian, saat seorang pegawai kantor pos melihatnya, dia pun memberikan surat tersebut pada Pimpinan Kantor Pos yang kemudian melanjutkannya pada Pimpinan sebuah Instansi Pemerintah. Pimpinan Instansi yang membaca surat tersebut sangat terharu saat membaca surat tersebut dan kemudian menyumbangkan uang sebesar 3 Juta Rupiah dan memberikannya pada Si Kepala Kantor Pos. Kepala Kantor Pos yang melihat hal tersebut lalu kemudian menambahkan uang sebesar 2 juta Rupiah sehingga total uang yang nantinya akan diterima si nenek adalah 5 juta rupiah.
Beberapa minggu kemudian, si nenek pun mengirimkan surat balasan pada Tuhan dengan isi:
Terima Kasih Tuhan atas uangnya, keluarga saya benar-benar terbantu tapi, lain kali langsung diantar ke rumah saya saja,ya? Buktinya, kalo lewat Kantor Pos, uang saya malah dipotong 50% tinggal 5 Juta Rupiah

Saya Bangga Jadi Orang Indonesia


Kapan terakhir kali anda mendengar kalimat di atas? Atau, tanyakan pada diri anda sendiri, kapan terakhir kali anda mengucapkan kalimat di atas?
Bila kening anda berkerut, berarti anda sependapat dengan saya, kalau bahwasanya, nilai kebangsaan dalam tubuh negara kita sudah menurun drastis. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Bagaimana mungkin kita bangga menjadi penduduk dari negara yang penuh dengan kriminalitas? Penduduk dari negara yang sering mati lampu?Penduduk dari negara yang jalannya sering rusak-rusak? Penduduk dari negara yang, bahkan mengurus surat-surat saja susahnya minta ampun kalo tak memakai duit pelicin. Jadi, cukup beralasankah bila kalimat di atas jarang kita dengar dari teman kita? Dari orang tua kita? Dari saudara kita? Dan, bahkan dari diri kita sendiri? Jujur saja, dulunya, saya adalah anggota resmi dari kategori orang-orang yang jarang mengatakan kalimat tersebut, walau entah sudah berapa banyak upacara bendera dan perayaan kemerdekaan yang saya ikuti sehingga mungkin, bila saya rangkum berbagai alasan mengapa
saya sampai masuk kategori tersebut adalah, karena negara saya TIDAK MAKMUR.
Sejauh yang saya tahu, memang belum ada survey resmi mengenai hubungan antara tingkat kemakmuran suatu negara dengan rasa nasionalisme atau kebangsaan penduduknya tapi, secara logika, saya rasa itu cukup masuk akal. Semakin hebat suatu negara, kita akan semakin bangga menjadi bagian dari negara tersebut jadi, dengan mengingat berbagai kekurangan dalam tubuh negara kita, saya rasa cukup beralasan kalau begitu banyak orang yang tidak bangga menjadi bagian dari negara Indonesia.
Pendirian saya akhirnya goyah saat saya menonton film Komedi karya Deddy Mizwar berjudul NAGA BONAR JADI 2, karena film tersebut berhasil menggugah rasa kebangsaan saya bahkan, saya sampai terharu melihat betapa hormatnya Naga Bonar pada pahlawan-pahlawan pendahulu kita Di film tersebut, dari sudut pandang Naga Bonar, saya bisa merasakan betapa heroiknya para pahlawan pendahulu kita, karena mereka mendahulukan kepentingan negara dan mengesampingkan kepentingan diri mereka, hanya untuk menciptakan udara kebebasan yang kita hirup sekarang yang mana, salah satu adegan kesukaan saya adalah saat Naga Bonar melihat Patung Soekarno-Hatta dan menggambarkan betapa luar biasa perasaannya saat mendengar kata itu...kata MERDEKA!!!
Namun, bukan hanya Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta saja yang patut kita ingat karena, jalan menuju kemerdekaan itu melibatkan berbagai nama, mulai dari Pangeran Diponegoro, Dr.Sam Ratulangi, Jendral Sudirman dan begitu banyak tokoh hebat lain yang rela menumpahkan darahnya agar sang saka merah putih dapat berkibar, yang seiring berjalannya waktu, kita menyebut mereka secara hormat sebagai PAHLAWAN.
Secara definisi, seperti yang sering saya pelajari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Pahlawan adalah orang yang berjasa dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Memang kita sudah tidak mungkin lagi menjadi pahlawan karena merebut dan mempertahankan kemerdekaan namun, siapkah kita menjadi pahlawan karena mengisi kemerdekaan? Siapkah kita menjadi generasi yang memajukan negara kita? Siapkah kita menjadi generasi yang mengharumkan nama negara kita? Dan, siapkah kita menjadi orang pertama dalam lingkungan kita yang berkata,”Saya bangga menjadi Orang Indonesia” bukan karena formalitas, bukan karena paksaan, tapi karena kita benar-benar mencintai tempat kelahiran kita ini, dan karena kita mempunyai tanggung jawab untuk terus “mengibarkan bendera merah putih” di tanah air kita ini.
Bukankah generasi kita sudah dihadiahi kemerdekaan dan kebebasan oleh para pahlawan kita? Jadi, dengan berbagai kemudahan yang kita dapatkan dibandingkan masa sebelum kemerdekaan, sudah seharusnya membuat kita punya lebih banyak kesempatan untuk menjadi orang sukses yang mana, kita harus ingat kalau semakin sukses kita, semakin besar tanggung jawab kita untuk membuat sukses orang-orang bangsa kita,seperti yang dikatakan Sam Ratulangi dalam filsafat "Si Tou Timou Tumou Tou"-nya yang berarti, manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia
Mungkin negara kita kita tak sehebat Amerika, tak secanggih Jepang, tak sebesar Cina dan tak semakmur Singapura namun, harus kita ingat kalau kita dilahirkan di salah satu Propinsi Indonesia yang disebut Nyiur Melambai, kita dibesarkan dengan makanan yang diberi nama Tinutuan, kita berlibur dengan keluarga kita di Pantai Bunaken, kita melakukan perjalanan wisata lewat Bandara Sam Ratulangi dan uniknya, kita diajarkan lingkungan kita untuk menyebut kata “nyanda” untuk mengatakan “tidak”.
Memang berat bagi kita untuk mencintai tempat yang tidak memfasilitasi segala yang kita inginkan tapi, seperti yang dikatakan oleh John F. Kennedy, “asks not what your country can do for you; ask what you can do for your country” (Jangan tanyakan apa yang dapat dilakukan Negara untukmu, tetapi tanyakan apa yang dapat kamu lakukan untuk Negaramu).
Jangan biarkan darah pahlawan kita mengucur dengan cuma-cuma. Jangan mau kekayaan alam negara kita “dirampok” negara yang kaya SDMnya. Harusnya, negara kita adalah salah satu negara paling “kaya” di dunia, ditilik dari berbagai keanekaragaman dan keunikannya namun, kekayaan itu tak akan pernah sempurna tanpa kekayaan SDM Lalu, mengapa negara kita tak bisa memperoleh kekayaan yang sempurna?
Alasannya, karena kita tidak mencintai negara kita. Karena kita tidak menghargai jasa para pahlawan yang menciptakan udara kemerdekaan. Karena setelah kita punya cukup ilmu, kita tidak ingin memajukan negara kita sendiri. Karena saat kita punya kekuasaan, kita lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan negara. Dan, karena saat kita berbicara dengan teman-teman kita, kita selalu mengatakan kalau kita menyesal dilahirkan di Indonesia dan bukannya negara lain.
Jadi, dari pernyataan di atas, bukankah bisa kita simpulkan kalau Indonesia akan mendapatkan kekayaannya yang sempurna lewat kecintaan dan kebanggaan penduduknya pada negaranya?
Maka dari itu, di saat-saat kemerdekaan ini, mari kita mulai belajar untuk melatih diri kita agar mencintai negara kita yang MERDEKA ini dan, jangan lupa untuk menularkan virus “kecintaan dan kebanggaan pada negara” ini pada yang lain karena, saat semua penduduk Indonesia mencintai Indonesia sebagaimana mestinya, saat itulah kita akan menjadi BANGSA YANG BESAR karena, bukankah BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA?

bakat dan kerja keras


Waktu saya SMA, saya punya seorang teman lelaki yang pintar tapi malas. Setiap ada pelajaran, dia selalu menggambar, bahkan kalo ada PR hanya menyontek punya teman tapi setiap kali disuruh mengerjakan tugas dan ujian, dia selalu mampu menjawab dengan benar. Pada saat itu, saya masih ingat gambaran diri saya yang “mengeluh” pada Tuhan. Tuhan ngga adil. Saya belajar sementara dia belajar. Saya bikin PR, dia hanya sibuk menyontek. Intinya, saya berusaha dan dia ngga berusaha. Mengapa hasilnya selalu lebih bagus dari saya? Mengapa dia dilahirkan jenius dan saya tidak?
Pertanyaan dan keluhan itu selalu muncul di pikiran saya karena setiap kali saya berusaha keras, saya selalu berpikir bahwa teman jenius saya itu palingan Cuma tidur-tiduran di rumah dan kemudian mendapatkan segalanya. Semua sudah tersedia dan tinggal dia petik, sementara saya? Harus mati-matian merebut dan mempertahankan. Tuhan TIDAK ADIL!!!!
Tapi, semuanya berubah saat saya membaca sebuah cerita tentang si pemulung yang bekerja keras namun yang didapatkannya sangatlah sedikit. Anda tahu apa yang dikatakan pemulung itu ketika orang bertanya mengapa dia masih juga giat bekerja? Dia bilang, “agar suatu saat, saat saya kembali pada Yang Kuasa, dua tangan saya yang kotor ini serta setiap peluh yang keluar adalah bukti saya pada Tuhan bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin dalam hidup saya.” Membaca cerita tersebut, saya jadi teringat dengan salah satu ayat dalam kitab suci saya (Saya seorang Khonghucu),”Jadilah Pelopor Dalam bersusah payah”. Astaga!!! Selama ini, saya sudah berburuk sangka pada Tuhan.
Setelah saya memasuki masa kuliah, saya masih juga menemui beberapa teman jenius seperti yang di atas tapi, saya tak pernah iri lagi pada mereka. Saya malah merasa kasihan karena mereka “memilih” untuk tidak hidup secara maksimal, sementara saya? Walaupun otak saya kalah jauh dari mereka tapi bisa dipastikan bahwa kerja keras mereka kalah jauh dari saya. Saya bangga menjadi pekerja keras dan saya bersyukur karena saya bisa merasakan pasang surut kehidupan saya, karena itulah yang mematangkan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin. Dan pada akhirnya, saat saya menghadap Yang Kuasa, saya boleh menengadahkan kepala dan mengatakan, “Tuhan, saya sudah berusaha maksimal untuk memanfaatkan segala yang Kau berikan padaku….”

.........TAKUUUUT...........



Kalo ada telepon yang nomornya berwarna merah ato 0866/0666, jangan diangkat karena bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan di berita, terjadi di Jakarta dan sudah terbukti. Sekarang masih diusut oleh pihak kepolisian. Dugaan sementara adalah kasus pembunuhan jarak jauh melalui hp oleh dukun ilmu hitam/si penelepon adalah roh gentayangan yang mencari mangsa…

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menerima SMS dengan isi seperti yang tertulis di atas. Lepas dari benar tidaknya hal tersebut, anehnya, yang pertama muncul di pikiran saya malah sebuah strategi marketing yang licik untuk menumbangkan AXIS sebagai “GSM yang baik hati”.
Dalam ilmu pemasaran, saya kaitkan saja ini dengan faktor “fear” yang mana, produsen menjual barang dengan mengeksplorasi rasa takut seseorang. Sebagai contoh, katakanlah ada sebuah Gym yang baru dibuka di pusat kota. Untuk mempromosikan Gym yang bersangkutan, daripada membuang uang untuk menginformasikan tentang betapa bergunanya olahraga bagi kesehatan, si pemilik Gym lebih tertarik untuk menakut-nakuti orang dengan mengatakan bahwa orang yang ngga ke Gym untuk berolahraga akan lebih cepat meninggal daripada orang yang ngga ke Gym (hehehe…sadis amat!!).
Jurus menakut-nakuti ini sempat menjadi trend waktu saya kecil lewat “arisan berantai” dalam bentuk beberapa lembar kertas yang meminta si penerima kertas untuk mentransfer sejumlah uang serta membantu mendistribusikan kertas tersebut yang mana, pada bagian akhir kertas tersebut, dituliskan bahwa, yang mengikuti petunjuk yang diberikan akan menjadi kaya sementara yang mengacuhkan surat itu akan mendapat sejumlah bencana, mulai dari pemerkosaan sampe meninggalnya anggota keluarga yang disayangi.
Jurus ini kemudian booming lagi lewat SMS dan friendster yang mana, ada beberapa pesan tertentu yang minta agar disebarkan ke 5, 10 bahkan 50 teman karena kalau tidak…dia akan segera mati-lah, putus cinta-lah, sampe kehilangan segala-galanya. Lucu….Lucu…sekedar info, saya ngga pernah mendistribusikan sms-sms tersebut dan buktinya? Saya masih menulis di sini dalam keadaan sehat walafiat. Pemikiran saya hanya satu : betapa naifnya orang beragama yang percaya bahwa hidup mati dan nasib mereka hanya ditentukan oleh SMS.
Pada akhirnya, semua hanya mainan manusia dan, daripada sibuk memprotes, lebih baik kita nikmati saja segala macam persuasi maupun promosi dengan memanfaatkan faktor “fear” di atas. Tapi…..saya ngga terima kalo faktor “fear” yang ada sampe dikait-kaitkan dengan agama, seperti mengatakan barang kompetitor sebagai barang setan sampe mengatakan bahwa memakai suatu produk akan membuat seseorang menjadi kafir. Saya rasa itu sudah melewati batas dan mudah-mudahan saja teman-teman juga mengacuhkan promosi-promosi yang mengatasnamakan agama sebagai tindak tegas kita untuk menolak promosi tak bermoral seperti di atas.
Pada akhirnya, yang “terlanjur” membaca postingan ini HARUS memberi komentar. Kalo dilaksanakan, kalian akan senantiasa bahagia dan mendapat banyak pengunjung blog. Kalo ngga dilaksanakan, blog kalian akan sepi pengunjung selamanya (hahahaha…..coba-coba praktek ni…)

Arti Sebuah Pujian


Sebelumnya, maaf karena beberapa hari ini nggak sempat “menginjak” dunia maya, dikarenakan aktivitas bertumpuk plus, urusan keluarga yang membuat saya harus berangkat pulang kampung ke ternate secara mendadak sehingga harus menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari barang yang memang saya perlukan sampe barang titipan (biasalah….)
Tapi, untuk kali ini, saya pending dulu posting tentang pengalaman saya di kota kelahiran tercinta saya itu karena saya mengalami kejadian menarik yang ingin saya bagi dengan teman-teman.
Kejadian ini tepatnya, terjadi di bandara, ketika saya berada di ruang tunggu dan sibuk membawa keponakan saya jalan-jalan supaya dia ngga rewel. Sementara berjalan-jalan, saya merasa seperti melihat wajah yang saya kenal dan…ternyata benar adanya. Saya bertemu dosen saya yang kebetulan akan berangkat ke Jakarta.
Nah, karena saya bekas mahasiswa yang baik (ehm…), maka saya langsung menyapanya dan, mulailah pembicaraan di antara kami berdua, mulai dari apakah yang sedang saya gendong itu anak saya (hikz…memangnya tampang saya kayak ibu-ibu?) sampe aktivitas yang sedang saya geluti sekarang. Saya benar-benar senang bertemu dengan dosen saya itu karena jujur saja, dia itu adalah dosen yang paling saya sayangi dan hormati saat saya jadi mahasiswa bahkan, lepas dari kenyataan bahwa wajahnya memang mirip dengan papa saya, saya selalu menganggap dia “papa” saya di kampus. Saya benar-benar kagum dengan sikap fair-nya pada mahasiswa sampe pengabdiannya yang luar biasa terhadap pendidikan. Belum lagi otaknya yang minta ampun brilian. Pokoknya, saya bangga jadi “anak”nya dia, walaupun dia belum tentu menganggap saya sebagai “anak”nya,hahahaha…
Kembali lagi ke pembahasan (sori, banyak nostalgianya), yang paling bikin saya terharu adalah, dia menyemangati saya dan bahkan mendukung saya supaya apply beasiswa untuk pendidikan yang lebih lanjut. Katanya sih, saya pasti mampu karena menurut dia, saya cukup aktif di kelas dan punya kans sebagai kandidat penerima beasiswa (ehm…). Jujur saja, waktu saya mendengar itu, rasanya saya hampir melayang. Setelah saya lulus, saya sempat mengalami “down” besar-besaran karena beberapa rencana yang sudah saya susun malah hancur berantakan dan walaupun sudah mencoba mensupport diri saya dengan berbagai tayangan, buku sampe artikel tentang perilaku positif supaya saya nggak terlalu “down”, tetap saja saya terlanjur kehilangan sebagian besar rasa percaya diri saya. Tapi, setelah “bincang-bincang singkat” saya dengan “dosen terhormat” saya itu, semangat saya menjadi terpompa. Saya pikir, bila orang yang saya pikir luar biasa sampai memberikan dukungan dan pujian (atau sayanya yang keGRan?hehehe) pada saya, berarti saya memang benar-benar mampu. Saya kini semakin percaya diri dan siap untuk kembali ke manado dan membangun kembali rencana-rencana lanjutan saya.Jia You!!
Adapun cerita di atas ngga saya maksudkan untuk memuji diri sendiri tapi saya hanya ingin mengingatkan mengenai betapa berartinya sebuah pujian bagi kepercayaan diri seseorang, apalagi bila kamu punya posisi tertentu bagi orang yang kamu puji. Karena itu, saya “menghimbau” teman-teman sekalian untuk memuji orang-orang terdekat anda karena anda ngga akan pernah tahu betapa berartinya “pujian kecil” anda bagi mereka.
Yang punya anak, hayo…dipuji anaknya kalo melakukan hal baik
Yang punya bawahan, hayo..dipuji bawahannya kalo pekerjaannya bagus
Dan yang baca postingan ini, hayo…dipuji dong penulisnya,hahahaha…

Pendidikan Vs Pengalaman


Mulanya sih, setelah lulus, saya pengen punya banyak waktu untuk menulis jadi tertarik untuk bantu-bantu om saya untuk tambah pengalaman plus supaya bisa mengaplikasikan apa yang saya pelajari di bangku kuliah. Dan ternyata, walaupun kerjanya agak santai, cukup banyak juga yang bisa saya pelajari, mulai dari pemasaran sampai operasional, yang kemudian bikin saya tambah kagum dengan om saya.
Jujur saja, Om saya hanya lulusan Sekolah Dasar tapi merupakan seorang pekerja keras yang giat membangun bisnis, bahkan merencanakan berbagai strategi pemasaran yang menurut saya sangat luar biasa untuk ukuran seorang lulusan Sekolah Dasar. Berdasarkan pengalamannya itulah, sehingga Om saya seringkali memandang para sarjana seperti saya dengan sebelah mata.
Yah, mau diapakan lagi?
Inilah yang selalu menjadi perdebatan sepanjang masa, mengenai sekolah dan pengalaman kerja, dan berhubung saya sendiri masih membantu usaha om saya, yah…terpaksa diam saja saat om saya berkicau, walaupun bagi saya pribadi, sekolah dan pengalaman kerja bukanlah sesuatu yang diperdebatkan karena keduanya saling melengkapi. Pendidikan memang penting, tapi tanpa pengalaman, akan menimbulkan kecanggungan saat bekerja atau mengaplikasikan yang kita pelajari. Di lain sisi, pengalaman memang penting tapi, kita harus sadar bahwa pendidikan mempengaruhi cara kita bicara dengan orang, sampai cara kita memandang sesuatu dan, ini bukanlah sebuah omong kosong karena kebanyakan orang yang tak mengecap pendidikan yang cukup cenderung berpikiran sempit dan kadang memiliki cara bicara yang sedikit kasar. Any Comments?

My Name Is . . .


Tadi waktu lagi ngobrol sama teman-teman di tempat ibadah, seorang teman saya menemukan bahan pembicaraan yang menarik, yaitu tentang cerita di balik nama masing-masing orang.
Hal ini dimulai dari teman saya yang bernama Susanti. Katanya, dia dinamakan susanti karena orang tuanya terkesan dengan kehebatan susi susanti, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Nasib Santi ternyata sama dengan saya, yang dinamakan Ivana karena orang tua saya menyukai Pebulutangkis bernama Ivana Lie. Lain lagi dengan Teresia yang namanya terinspirasi dari penyanyi mandarin terkenal bernama Teresa Teng dan Joan yang orang tuanya menyukai kelincahan Joan Tanamal (kalo ngga’ salah ini namanya. Sekarang ini, dia masuk penjara karena perkara narkoba).
Trus, ada lagi Marchanti, yang kata chanti-nya berasal dari gabungan nama orang tuanya dan Mar karena dia lahir di bulan Maret. Ada juga teman saya yang nama tengahnya HUTRI karena dia lahir pas 17 agustus yaitu saat HUT Republik Indonesia (RI),hahahaha….
Akhirnya, ada susanto adiknya susanti yang dinamakan begitu karena…orang tuanya ingin menyeragamkan nama anak-anaknya. Buktinya, adik keduanya bernama susandi,hahahaha…
Lucu juga saat menyadari ternyata nama adalah catatan sejarah karena selain “mendokumentasikan” sebuah tanggal penting, nama juga bisa menggambarkan apa yang terjadi saat dia lahir, seperti nama artis yang terkenal sampai nama peristiwa.
Trus, kalo kamu? Apa peristiwa di balik nama kamu?

Art of Appreciation


Omong-omong soal Hari Pendidikan Nasional, saya jadi ingat dengan salah satu pertanyaan yang sempat saya baca di sebuah milis, yaitu : Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?
Mungkin beberapa dari kita akan menjawab Amerika Serikat, Australia ataupun Inggris tapi sebenarnya, Negara yang menduduki posisi agung ini adalah Finlandia, yang menurut Satria Darma, peringkat tersebut diperoleh berdasarkan Hasil Survei Internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development melalui tes yang dinamakan PISA, yang mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, matematika. Hebatnya lagi, Finlandia bahkan unggul untuk pendidikan anak-anak mental atau kita simpulkan saja, Finlandia mampu membuat SEMUA siswanya berhasil (Fiuuh…Gile cing!!)
Nah, rahasia dari Negara ini ternyata terletak pada kualitas gurunya, yang mana, di Finlandia, hanya orang-orang dengan kualitas dan pelatihan terbaik yang boleh menjadi tenaga pendidik bahkan, guru adalah profesi bergengsi yang dihargai walaupun gaji meraka ngga bombastis.
Selain penghargaan mereka terhadap profesi guru, ada satu hal yang bikin saya salut sama Finlandia, yaitu pandangan mereka mengenai ujian. Jika Negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia malah percaya kalo ujian tersebutlah yang menghancurkan tujuan belajar siswa karena tujuan akhir mereka hanyalah : LOLOS UJIAN padahal banyak aspek yang tak bisa diukur dengan ujian (betulll!!)
Berdasarkan tulisan di atas, saya pun membuat sebuah kesimpulan sederhana mengenai strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yaitu : belajar menghargai.
Bagaimana mungkin Negara kita bisa memiliki pendidikan berkualitas jika kita ngga menghargai guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kita?
Bagaimana mungkin Negara kita bisa memiliki pendidikan berkualitas kalo semua hasil jerih payah siswa sebagai “pahlawan penerus bangsa“ hanya dihargai dengan tes 3 hari?
Dan, bagaimana mungkin Negara kita bisa maju dan memiliki pendidikan berkualitas kalo pemerintah tak menghargai para pemenang olimpiade akademik dan siswa berkualitas sebagai “pahlawan intelektual yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional sehingga mereka malah akhirnya lari untuk meminta perlindungan Negara lain?
Saya yakin, jika pemerintah bisa menghargai 3 macam pahlawan di atas, niscaya Indonesia bisa menggantikan Finlandia sebagai Negara dengan kualitas pendidikan ternaik di dunia. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya?

Posting Lebih Baru Posting Lama